Jumat, 24 Februari 2012

Laporan Praktikum COD BOD


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
       Air merupakan senyawa yang bersifat pelarut universal, karena sifatnya tersebut, maka tidak ada air dan perairan alami yang murni. Tetapi didalamnya terdapat unsur dan senyawa yang lain. Dengan terlarutnya unsur dan senyawa tersebut, terutama hara mineral, maka air merupakan faktor ekologi bagi makhluk hidup. Walaupun demikian ternyata tidak semua air dapat secara langsung digunakan memenuhi kebutuhan makhluk hidup, tetapi harus memenuhi kriteria dalam setiap parameternya masing-masing
Berbagai sumber air yang dipergunakan untuk keperluan hidup dan kehidupan dapat tercemar oleh berbagai sumber pencemaran. Limbah dari makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan dapat menjadi penyumbang pencemaran terhadap air yang akan dipergunakan, baik untuk keperluan makhluk hidup maupun untuk keperluan kehidupan yang lain. Keberadaan Zat-zat beracun atau muatan bahan organik yang berlebih akan menimbulkan gangguan terhadap kualitas air. Keadaan ini akan menyebabkan oksigen terlarut dalam air berada pada kondisi yang kritis, atau merusak kadar kimia air. 

Rusaknya kadar kimia air tersebut akan berpengaruh terhadap fungsi dari air itu sendiri. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan kegiatan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobik atau anaerobik. Sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun.
Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Oleh karena itu, untuk mengetahui kadar oksigen terlarut yang terdapat dalam air perlu dilakukan pemeriksaan kadar oksigen.
Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota air seperti ikan dan mikroorganisme. Pemeriksaan kadar oksigen terlarut didalam air untuk mengetahui tingkat pencemarannya, dapat diketahui melalui pemeriksaan BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan pemeriksaan COD (Chemical Oxygen Demand).  

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana menentukan kadar kandungan DO (Dissolved Oxygen ) pada sampel air limbah
2.      Bagaimana menentukan kadar kandungan BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada sampel air  limbah !
3.      Bagaimana menentukan kadar kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) pada sampel air limbah !

C.    Tujuan Percobaan
1.      Untuk menentukan kadar kandungan DO (Dissolved Oxygen ) pada sampel air limbah.
2.      Untuk menentukan kadar kandungan BOD (Biochemical Oxygen Demand) pada sampel air limbah.  
3.      Untuk menentukan kadar kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) pada sampel air limbah.  





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian dan Karakteristik Air Tercemar  
       Menurut Peraturan Mentri Kesehatan RI No. 173/Menkes/VII/77: Pencemaran air adalah suatu peristiwa masuknya zat kedalam air yang mengakibatkan kualitas (mutu) air tersebut menurun sehingga dapat menggangu atau membahayakan kesehatan masyarakat.
        Menurut Peraturan Pemerintah RI No. 20 Tahun 1990: Pencemaran air adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air  oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ketingkat tertentu yang membahayakan yang mengakibatkan air tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Mukono, 2006. 18).
        Menurut Mukono (2006. 19-20) beberapa faktor yang mempengaruhi pencemaran air, meliputi:
1.      Mikroorganisme: Salah satu indikator bahwa air tercemar adalah adanya mikroorganisme patogen dan non patogen didalamnnya. Danau atau sungai yang terkontaminasi/ tercemar mempunyai spesis mikroorganisme yang berlainan dari air yang bersih. Air yang tercemar umumnya mempunyai kadar bahan organik yang tinggi sehingga pada umumnya banyak mengandung mikroorganisme heterotropik yang akan menggunakan bahan organik tersebut untuk metabolisme, misalnya bakteri coliform.  
2.      Curah Hujan: Curah hujan disuatu daerah akan menentukan volume dari badan air dalam rangka mempertahankan efek pencemaran terhadapa setiap bahan buangan didalamnya (deluting effects). Curah hujan yang cukup tinggi sepanjang musim dapat lebih mengencerkan (mendispresikan) air yang tercemar.  
3.      Kecepatan Aliran air (Stream Flow): Bila suatu badan air memiliki aliran yang cepat, maka keadaan itu dapat memperkecil kemungkinan timbulnya pencemaran air karena bahan polutan dalam air akan lebih cepat terdispersi.
4.      Kualitas Tanah: Kualitas tanah (pasir atau lempung) juga mempengaruhi pencemaran air, ini berkaitan dengan pencemaran tanah yang terjadi di dekat sumber air. Beberapa sumber pencemaran tanah dapat berupa bahan beracun seperti pestisida, herbisida, logam berat dan sejenisnya serta penimbunan sampah secara besar-besaran.

            Ciri-ciri air yang mengalami pencemaran sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya atau komponen yang mengakibatkan polusi. Sebagai contoh air minum yang terpcemar mungkin rasanya akan berubah meskipun perubahan baunya mungkin sukar dideteksi, bau yang menyengat mungkin akan timbul pada pantai laut, sungai dan danau yang terpolusi, kehidupan hewan air akan berkurang pada air sungai yang terpolusi berat, atau minyak yang terlihat terapung pada permukaan air laut menunjukkan adanya polusi. Tanda-tanda polusi air yang berbeda ini disebabkan oleh sumber dan jenis polutan yang berbeda-beda pula (Faisal.2010).
            Menurut Effendi (2003), air yang dikatakan tercemar dapat dilihat dari beberapa aspek karakteristik air itu sendiri, yang mana karakteristik itu pula dibagi dalam 2 karakter yaitu:
1.              Karakteristik fisik meliputi :
a.               Suhu : Secara umum, kenaikan suhu perairan akan mengakibatkan kenaikan aktifitas biologi sehingga akan membentuk O2 lebih banyak lagi. Kenaikan suhu perairan secara alamiah biasanya disebabkan oleh aktifitas penebangan vegetasi disekitar sumber air tersebut, sehingga menyebabkan banyaknya cahaya matahari yang masuk tersebut mempengaruhi akuifer yang ada secara langsung atau tidak langsung.
b.              Kekeruhan : Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik dan anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna air yang memasuki badan air. Kekeruhan dengan kadar semua jenis zat suspensi tidak dapat dihubungkan secara langsung, karena tergantung juga kepada ukuran dan bentuk butiran.
c.               Bau dan rasa : Air yang baik idealnya tidak berbau dan tidak berasa. Bau air dapat ditimbulkan oleh pembusukan zat organik seperti bakteri serta kemungkinan akibat tidak langsung terutama sistim sanitasi, sedangkan rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu larut dalam air, dan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik.
d.             Warna : Dalam proses pengolahan air warna merupakan salah satu parameter fisika yang digunakan sebagai persyaratan kualitas air baik untuk air bersih maupun untuk air minum. Perinsip yang berlaku dalam penentuan parameter warna adalah memisahkan terlebih dahulu zat atau bahan-bahan yang terlarut yang menyebabkan kekeruhan.
2.              Dan untuk Karakteristik Kimia Menurut Mestati (2007) meliputi :  
a.               Derajat Keasaman (pH air) : Penting dalam proses penjernihan air karena keasaman air pada umumnya disebabkan gas oksida yang larut dalam air terutama karbondioksida. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari pada penyimpangan standar kualitas air minum dalam hal pH yang lebih kecil 6,5 dan lebih besar dari 9,2 akan tetapi dapat menyebabkan beberapa senyawa kimia berubah menjadi racun yang sangat menggangu kesehatan
b.              Kesadahan : Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya Ion Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah juga merupakan air yang memiliki kadar mineral yang tinggi. Air dengan kesadahan yang tinggi memerlukan sabun lebih banyak sebelum terbentuk busa







B.           Pengertian DO, BOD dan COD
Kehidupan mikroorganisme, seperti ikan dan hewan air lainnya, tidak terlepas dari kandungan oksigen yang terlarut di dalam air, tidak berbeda dengan manusia dan mahluk hidup lainnya yang ada di darat yang juga memerlukan oksigen dari udara agar tetap dapat bertahan hidup, karena air yang tidak mengandung oksigen tidak dapat memberikan kehidupan bagi mikroorganisme, ikan dan hewan air lainnya.
Untuk memenuhi kehidupannya, manusia tidak hanya tergantung pada makanan yang berasal dari daratan saja (beras, gandum, sayuran, buah dan daging), akan tetapi juga tergantung pada makanan yang berasal dari air (ikan, kerang, cumi-cumi dan rumput laut).
Tanaman yang ada di dalam air, dengan bantuan sinar matahari melakukan fotosintesis yang menghasilkan oksigen dimana oksigen yang dihasilkan dari akan larut di dalam air. Selain itu, oksigen yang ada di udara dapat masuk pula ke dalam air melalui proses difusi yang secara lambat menembus permukaan air. Konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air tergantung pada tingkat kejenuhan air itu sendiri, kejenuhan air dapat disebabkan oleh koloidal yang melayang di dalam air oleh jumlah larutan limbah yang terlarut di dalam air, selain itu suhu air dan tekanan udara juga dapat mempengaruhi konsentrasi oksigen yang terlarut di dalam air dikarenakan tekanan udara mempengaruhi kecepatan difusi oksigen dari udara ke dalam air (Rezki. 2010).
Kemajuan industri dan teknologi seringkali berdampak pula terhadap keadaan air lingkungan, baik air sungai, air laut, air danau maupun air tanah. Dampak ini disebabkan oleh adanya pencemaran air yang disebabkan oleh berbagai faktor. Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah, hal dikarenakan oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/ mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk).
Pada umumnya air lingkungan yang telah tercemar kandungan oksigennya sangat rendah. Hal itu karena oksigen yang terlarut di dalam air diserap oleh mikroorganisme untuk memecah/mendegradasi bahan buangan organik sehingga menjadi bahan yang mudah menguap (yang ditandai dengan bau busuk). Selain dari itu, bahan buangan organik juga dapat bereaksi dengan oksigen yang terlarut di dalam air organik yang ada di dalam air, makin sedikit sisa kandungan oksigen yang terlarut di dalamnya. Bahan buangan organik biasanya berasal dari industri kertas, industri penyamakan kulit, industri pengolahan bahan makanan (seperti industri pemotongan daging, industri pengalengan ikan, industri pembekuan udang, industri roti, industri susu, industri keju dan mentega), bahan buangan limbah rumah tangga, bahan buangan limbah pertanian, kotoran hewan dan kotoran manusia dan lain sebagainya (Habib. 2011).
Oksigen terlarut ( DO ) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal darifotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara. Oksigen terlarut di suatu perairan sangatberperan dalam proses penyerapan makanan oleh mahkluk hidup dalam air. Oksigenterlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering juga disebut dengan kebutuhanoksigen (Oxygen demand) merupakan salah satu parameter penting dalam analisiskualitas air (Ficca. 2009).  
Dengan melihat kandungan oksigen yang terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air lingkungan telah terjadi. Dapat diketahui dengan menggunakan uji COD dan BOD.
BOD singkatan dari Biochemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen biologi untuk memecah (mendegradasi) bahan buangan didalam air limbah oleh mikroorganisme. Dalam hal ini bungan organik akan dioksidasi oleh mikroorganisme didalam air limbah, proses ini adalah alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang cukup.


Sedangkan COD (Chemical Oxygen Demand) atau oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan didalam air, dalam hal ini bahan buangan organik akan dioksidasi oleh bahan kimia yang digunakan sebagai sumber oksigen oxidizing agent (Habib. 2011).

C.    Prinsip Pemeriksaan BOD dan COD
COD (Chemical Oxygen Demand = Kebutuhan Oksigen Kimia) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organic yang ada dalam sampel air, dimana pengoksidasi K2 Cr2 O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air (Anonim, 2011).  
Oksidi-reduktometri merupakan salah satu macam titrasi. Oksidi-reduktometri adalah metode titrimetri berdasarkan reaksi reduksi dan oksidasi dari titran dan titrat. Oksidi-reduktometri digunakan untuk analisis logam dalam suatu persenyawaan dan analisis senyawa organik. Oksidimetri adalah teknik titrasi yang menggunakan titran sebagai suatu oksidator. Salah satu teknik ini adalah permanganometri. Pada metode ini, titran yang digunakan adalah ion permanganat, khususnya dalam bentuk garam kalium permanganat. Ion permanganat bertindak sebagai oksidator dengan hasilreaksi berupa ion Mn 2+ (Rezki, 2010).  
Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisa empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air Sedangkan angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organik yang terlarut dan sebagian zat-zat organik yang tersuspensi dalam air.  Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat pencemaran air lingkungan (Habib, 2011).

Pada titrasi iodometri, analit yang dipakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan I- (iodide) untuk menghasilkan iod, iod yang terbentuk secara kuantitatif dapat dititrasi dengan larutan tiosulfat. Dari pengertian diatas maka titrasi iodometri adalah dapat dikategorikan sebagai titrasi kembali. Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometr i), adalah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi
kimia
(Dinda, 2010)
Perbedaan dari kedua cara uji oksigen terlarut di dalam air secara garis besar yaitu chemical oxygen demand adalah kapasitas air untuk menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit. Sedangkan biological (biochemical) oxygen demand adalah kuantitas oksigen yang diperlukan oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa organik terlarut. Jika BOD suatu air tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun karena oksigen yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri
Selain itu kemampuan air untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat dianjurkan disamping paramter lain seperti BOD dan COD. Di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam menguraikan komponen-komponen kimia menjadi komponen yang lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida dengan zat pencemar seperti komponen organik sehinggazat pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga diperlukan oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam proses metabolisme. Dengan adanya oksigen dalam air, mikroorganisme semakin giat dalam menguraikan kandungan dalam air (Rizki, 2010).


Untuk mengetahui kualitas air dalam suatu perairan, dapat dilakukan dengan mengamati beberapa parameter kimia seperti aksigen terlarut (DO). Semakin banyak jumlah DO (dissolved oxygen ) maka kualitas air semakin baik. Jika kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobik yang mungkin saja terjadi.
Satuan DO dinyatakan dalam persentase saturasi.Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasibahan ± bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen.   dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasilfotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin, 2000). 

























BAB III
METODE PERCOBAAN

A.    Alat dan Bahan
1.      Alat
a.       Botol winkler
b.      Botol aqua sedang
c.       Buret dan statif
d.      Botol semprot
e.       Erlenmeyer
f.       Kaki tiga
g.      Batang pengaduk
h.      Gelas kimia
i.        Spritus
j.        Sunglite
k.      Pipet sedot
l.        Pipet skala 1ml dan 10ml

2.      Bahan
a.       Air limbah (sampel)
b.      Aquades
c.       Larutan alkali iodida azida
d.      Larutan H2SO4 pekat
e.       Larutan H2SO4 4N
f.       Larutan KMnO4 0,05N
g.      Larutan H2C2O4 0,05 N
h.      Larutan MnSO4 40%
i.        Larutan Na2S2O3 0,025 N
j.        Tissu



B.     Prosedur Kerja
1.      BOD dan DO
a.       Pengambilan sampel air limbah di Fakultas Sains dan Teknologi menggunakan botol winkler tanpa gelembung
b.      Menambahkan 2 mL larutan MnSO4 40%, dan mendiamkan larutan  selama beberapa menit untuk menghomogenkan
c.       Menambahkan 2 mL alkali iodida azida, kemudian mendiamkan hingga muncul endapan berwarna coklat dan memindahkan larutan kegelas kimia kemudian dikocok  
d.      menambahkan 2 mL H2SO4 pekat hingga endapan larut, lalu mengambil  100 mL dan memindahkan larutan kedalam erlenmeyer
e.       Larutan yang berada didalam erlenmeyer siap untuk dititrasi dengan larutan Na2 S2 O3 0,025N
f.       Menambahkan indikator amilum dan melanjutkan kembali dengan titrasi hingga warna biru hilang, kemudian catat volume titrasi.

2.      COD
a.       Memasukkan 100 mL sampel tanpa gelembung kedalam erlenmeyer
b.      Menambahkan 5 mL H2SO4 4N dan menambahkan lagi dengan 10 mL larutan KMnO4 lalu memanaskannya hingga mendidih kurang lebih 5 menit
c.       Menambahkan 10 mL H2C2O4 0,05N kemudian menitrasi selagi panas dengan larutan KMnO4 0,05N hingga larutan berwarna merah muda. Dan catat hasil volume. 







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil Pengamatan
1.      Oksigen Terlarut (DO0)
Zat yang bereaksi
Hasil pengamatan
Sampel air + MnSO4 40% + alkali iodida azida
Larutan keruh, terbentuk endapan warnanya putih susu
Ditambahkan asam fulfat
Larutan orange, endapan larut kembali
Dititrasi dengan Na2 S2 O3
Larutan kuning muda
Ditambahkan indikator amilum
Larutan berwarna biru gelap
Dititrasi Na2 S2 O3
Larutan bening

2.      Oksigen Terlarut (DO4)
Zat yang bereaksi
Hasil pengamatan
Sampel air + MnSO4 40% + alkali iodida azida
Larutan keruh, terbentuk endapan warnanya putih susu
Ditambahkan asam fulfat
Larutan orange, endapan larut kembali
Dititrasi dengan Na2 S2 O3
Larutan kuning tua
Ditambahkan indikator amilum
Larutan berwarna biru gelap
Dititrasi Na2 S2 O3
Larutan bening

3.      Chemical Oxygen Demand (COD)
Zat yang bereaksi
Hasil pengamatan
100ml sampel + 5ml H2SO4 4N + 10ml KMnO4
Larutan jernih dan berwarna ungu
Dipanaskan hingga mendidih +5 menit + 10ml H2C2O4 0,05 N
Larutan menjadi kemerah-merahan dan berubah menjadi bening
Larutan dititrasi selagi panas dengan larutan KMnO4 0,05 N
Hingga berwarna merah muda

B.     Perhitungan

1.      DO dan BOD
a.       Rumus :

b.      Penyelesaian 

                  BOD = DO0 – DO4
                 

2.      COD
a.       Rumus

Keterangan :
A = Volume Titran
B = N KMnO4
C = N H2C2O4           



b.      Penyelesaian 

COD   = [(10ml + 6,6ml) x 0,05 grek/L] x 31,6 gram/grek x 1000 mg/gram 
                                                            100 ml
            = (16,6ml x 0,05 grek/L) – (0,5 grek/L) x 31,6 gram/grek x 1000 mg/gram
                                                      100 ml
      = (0,83 grek/L ml – 0,5 grek/L x m) x 31600 mg/grek x 1000 mg/gram
                                                      100 ml
      = 0,33 grek/L . ml x 31600 mg/grek
                              100 ml
      = 10428 mg = 104,28 mg/L
          100    L

C.    Pembahasan   
Air merupakan suatu persenyawaan kimia yang sangat sederhana yang terdiri dari dua atom hidrogen (H) berikatan dengan satu atom (O), secara simbolik air dinyatakan sebagai H2O. Air serta bahan-bahan dan energi dikandung didalamnya merupakan lingkungan bagi jasad-jasad air.
Dalam pengolahan air limbah dikenal tiga parameter utama yaitu
, oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO), kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) atau Chemical Oxygen Demand (COD).
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen Demand) dengan menggunakan botol  winkler. Sampel yang digunakan adalah air limbah dari Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Alauddin Makassar. DO adalah oksigen terlarut yang merupakan parameter penting dalam pemeriksaan kualitas air. Kadar DO dalam air dapat ditentukan menggunakan dua cara yaitu model titrasi dengan cara winkler dan metode elektrokimia. Namun dalam praktikum ini, digunakan metode winkler.
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada percobaan kali ini antara lain adalah aquades, air sampel, H2SO4 pekat, larutan alkali iodida azida, larutan H2SO4 4N, Larutan KMnO4 0,05N, Larutan H2C2O4 0,05 N, Larutan MnSO4 40%, Larutan Na2S2O3 0,025 N. Pada uji Dissolved Oxygen (DO) dan uji Biological Oxygen Demand (BOD) perlakuan awal yang dilakukan ialah memasukkan sampel ke dalam botol winkler yang bertutup dengan cara mencelupkan botol 450 dalam air kemudian menutupnya agar tidak terdapat gelembung udara yang dapat mempengaruhi kandungan oksigen pada sampel.
Kemudian menambahkan 2 mL larutan MnSO4 40% dalam botol yang berisi sampel, penambahan MnSO4 ini berfungsi untuk mengikat oksigen menjadi Mn(OH)2 yang kemudian akan teroksidasi menjadi MnO2 berhidrat. Selanjutnya menambahkan larutan alkali-iodida-azida dengan cara yang sama yaitu memasukkan ujung pipet ke dalam larutan agar tidak terjadi percikan dan pereaksi tidak keluar dari botol karena larutan ini sangat beracun. Penambahan pereaksi alkali-iodida-azida ini berfungsi sebagai katalisator karena zat organik sangat sukar bereaksi kemudian larutan di biarkan beberapa saat hingga terbentuk endapan cokelat.
Setelah terbentuk endapan cokelat, larutan kemudian dipindahkan kedalam erlenmeyer kemudian menambahkan larutan asam sulfat (H2SO4) yang berfungsi untuk melarutkan endapan. Setelah endapan larut, dilanjutkan dengan menitrasi larutan dengan menggunakan natrium tiosulfat (Na2S2O3) hingga larutan berwarna kuning kemudian menabahkan indikator amilum (kanji) hingga berwarna biru. Indikator kanji ini berfungsi sebagai indikator yang mengikat ion-ion yang ada pada larutan alkali-iodida-azida karena warna biru tua kompleks pati – iod berperan sebagai uji kepekaan terhadap iod. Kepekaan itu lebih besar dalam larutan sedikit asam  dari pada dalam larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida.
. Petitrasi dilakukan hingga warna biru hilang, volume natrium tiosulfat (Na2S2O3) yang diperoleh adalah 1,9 mL. Dari hasil perhitungan diperileh jumlah DO pada sampel sebesar 2,6 mg/L.  
Metode Winkler dalam menganalisis oksigen terlarut (DO) adalah dimana dengan cara titrasi berdasarkan metoda winkler lebih analitis, teliti dan akurat apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan dan penambahan indikator amilumnya. Dengan mengikuti prosedur yang tepat dan standarisasi secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan cara DO meter, harus diperhatikansuhu dan salinitas sampel yang akan diperiksa.
Sedangkan pada uji Chemical Oxygen Demand (COD) perlakuan awal yang dilakukan yaitu memasukkan sampel ke dalam erlenmeyar, kemudian menambahkan asam sulfat (H2SO4) dan KMnO4 pada larutan sehingga larutan berubah warna menjadi ungu, kemudian menaskan larutan hingga mendidih dalam beberapa menit. Selanjutnya menambahkan asam oksalat (H2C2O4) hingga larutan berubah warna menjadi bening lalu larutan dititrasi dengan menggunakan KMnO4 hingga berubah merah muda. Titrasi dilakukan dalam keadaan panas karena pemanasan berfungsi untuk mempercepat reaksi titrasi. Dari hasil perhitungan diperileh jumlah COD pada sampel sebesar 104,28 mg/L.
Dari pemeriksaan yang dilakukan praktikan diperoleh hasil 2,6 mg/L, bila merujuk pada keputusan Kepmen LH No. KEP-03/MENKLH/II/1991 tentang baku mutu limbah cair untuk golongan 3 BOD adalah 150 mg/L. Dari hasil ini dapat diketahui bahwa kandungan BOD pada air limbah Fakultas Sains Dan Teknologi masih aman karna belum melebihi nilai standar pencemaran air, dan masih berdampak positif untuk kelangsung hidup mikroorganisme yang hidup di air.
Sedangkan untuk pemeriksaan COD, menyiapkan 100ml sampel yang kemudian ditambahkan 5ml H2SO4 4N dan 10ml larutan KMnO4 sehingga larutan berwarna ungu, selanjutnya dipanaskan hingga mendidih kurang lebih 5 menit dan tambahkan 10ml larutan H2C2O4 0,05N dan kemudian larutan berwarna kemerah-merahan.. larutan dititrasi selagi panas dengan larutan KMnO4 0,05N hingga berwarna merah muda titrasi dapat dihentikan, hasil yang kami dapatkan dari pemeriksaan ini 6,6ml.
Adapun hasil dari pemeriksaan COD yang dilakukan praktikan, hasil yang diperoleh adalah 104,20 mg/L. Jika ditinjau kembali dengan merujuk pada Kepmen LH No. KEP-03/MENKLH/II/1991 tentang baku mutu limbah cair golongan 3 COD yaitu 300 mg/L, dari hasil pengujian ini dapat diketahui bahwa limbah dari Fakultas Sains Dan Teknologi masih aman bagi mikroorganisme yang hidup didalam air karena tidak melebihi nilai ambang batas. 






















BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari percobaan yang praktikan lakukan diperoleh hasil sebagai berikut:
1.      Kadungan BOD (Biological Oxygen Demand) dan DO (Desolvid Oxygen) pada sampel air limbah Fakultas Sains Dan Teknologi diperoleh hasil 2,6 mg/L.
2.      Kandungan COD (Chemical Oxygen Demand) pada sampel air limbah  Fakultas Sains Dan Teknologi diperoleh hasil 104,28 mg/L.  
3.      Kandungan oksigen terlarut (DO) pada air dilihat dari kandungan COD dan BOD yang diambil untuk di uji mutunya masih aman bagi mikroorganisme yang hidup didalamnya.

B.     Saran
Sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum setiap mahasiswa dapat melakukan praktikum dengan lebih berhati-hati pada saat penggunaan bahan kimia khususnya bahan kimia yang berbahaya.














DAFTAR PUSTAKA

Denis Rica. 2010. Kualitas dan Kuantitas Air Bersih Untuk Pemenuhan      Kebutuhan Manusia. Didownload dari file:///D:/refrensi%20BOD%20COD/KUALITAS%20DAN%20KUANTITAS%20AIR%20BERSIH%20UNTUK%20PEMENUHAN%20KEBUTUHAN%20MANUSIA%20%C2%AB%20JURNAL%20URIP%20SANTOSO.htm. Diakses 27 Oktober 2011 

Erik. 2010. Pengertian COD dan BOD. Didownload dari          http://erikarianto.wordpress.com/2008/01/10/pengertian-cod-dan-bod/. Diakses 21 Oktober 2011


Hidayat Wahyu. 2008. Teknologi Pengolahan Air Limbah. Didownload dari file:///D:/bod%20cod/Teknologi%20Pengolahan%20Air%20Limbah%20-%20Majari%20Magazine.htm. Diakses 27 Oktober 2011

Mershaly. 2010. Laporan Praktikum Kimia Air. Didownload dari  http://mershaly.wordpress.com/2010/01/05/laporan-praktikum-kimia-air/. Diakses 20 Oktober 2011

Mulia, Ricki M. Kesehatan Lingkungan, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2005

Mukono. H. J. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan, Surabaya: Airlangga University Press. 2006

Pratama Rezki. 2010. Laporan Praktikum Analisa Terapan Kandungan BOD dan COD Dalam Sampel Air Limbah. Didownload dari http://scients.darkbb.com/kimia-analitik-f7/cod-dan-bod-t12.htm. Diakses 20 Oktober 2011  

Salmin. 2000. Kebutuhan Oksigen Telarit (DO). Didownload dari http://annisanfushie.wordpress.com.kebutuhan-oksigen-terlarut-2000-(DO). Dikases 21 Oktober 2011

Susilawaty, Andi, dkk. Panduan Praktikum Kesehatan Lingkungan, Makassar: Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, 2011 

Syabatini Annisa. 2009. Laporan Praktikum Kimia Analitik II Percobaan Iodometri dan Iodimetri. Didownload dari http://annisanfushie.wordpress.com/2009/07/17/iodometri-dan-iodimetri/. Diakses 21 Oktober 2011

Umar Nisbantoro Faisal. 2010. Pencemaran Air Dan Sifat Air Tercemar, Didownload dari  http://industri10faisal.blog.mercubuana.ac.id/2011/06/24/pencemaran-air-dan-sifat-air-tercemar/. Diakses 20 Oktober 2011    



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar